Mentari Indah Hari ini
Semalam hujan, pagi ini matahari terang
Tanah yang masih basah karna hujan semalam dihangatkan.
Tanah yang masih basah karna hujan semalam dihangatkan.
Suasana tampak seperti biasanya, orang orang kembali ke sawah, kerjakan apa yang harus dikerjakan hari ini, menyambung pekerjaan kemarin yang belum usai atau memulai pekerjaan baru karna pekerjaan kemarin telah usai.
Udaranya enak untuk dihirup, tidak terganggu aroma dari kandang ternak yang ternyata sudah dipanen. Tumbuh tumbuhan tampak segar, mungkin karna fotosintesisnya berjalan lancar semalam.
Orang orang tampak riang, terlihat dari senyum senyum mereka yang saling bertegur sapa. Mungkin, tidur semalam terasa nyenyak, karna dinginnya hujan membuat selimut jadi semakin hangat.
Ibu - ibu juga bersemangat, mau masak apa hari ini ? Bapak yang sedang di sawah diberi kiriman apa ya ? Melihat ke arah sayur mayur dan kebingungan karna terdapat banyak pilihan. Kemaren sudah oseng kangkung, masa' kangkung lagi ? Harus berpikir cepat, kalau terlalu lama, 5 ikat sayur bayam terambil konsumen lain, jadi makin kebingungan kalau semuanya habis.
Layaknya ibu - ibu pada umumnya, berbelanja tidak lengkap kalau tanpa sepatah dua patah kalimat, bercerita. Topik hari ini kurang lebih sama dengan hari - hari kemaren, soal pandemi yang terjadi akhir akhir ini dan makin mendekat ke daerah mereka tinggal, rasanya. Di akhir obrolan terucap sebuah harapan, agar mereka tetap sehat beserta keluarga. Agar topik tak mengenakkan ini segera berubah menjadi kabar baik. Biar nanti di bulan ramadhan, tumbuh ketenangan dalam menjalankan segala hal.
Sebelum ramadhan datang, biasanya akan ada tradisi bersedekah ke tetangga sekitar, di akhir bulan sya'ban. Bapak - bapak saling mengundang untuk mendatangi rumah shohibul hajat, berdoa bersama. Berniat karena Tuhan tentunya, mendoakan leluhur, kakek nenek, dan kerabat yang sudah dahulu meninggalkan.
Lalu juga berharap ibadah di bulan ramadhan dilancarkan dan diberkahi.
Megengan, nama tradisi tersebut. Namun tahun ini, tradisi tersebut diakali, saling bertukar berkat caranya. Karena kita harus berjarak sementara. Merenggangkan jarak antar diri tanpa mengurangi eratnya silaturahmi.
Lalu, seorang nenek bercerita, bahwa pada megengan bulan ini, keluarga besar akan berkumpul. Beliau tinggal sendirian di tempatnya. Ditemani cucunya di kala malam tiba.
Pantas, jikalau beliau sangat bersemangat, semua anak cucunya akan datang untuk berdoa bersama - sama.
Di sela cerita beliau memelankan suaranya, lirih. Bahwa, kemarin berbincang dengan salah seorang cucunya di luar kota, via suara. Yang kirimkan kabar tidak bisa pulang. Nenek sedikit bersedih.
Demi kebaikan bersama, cucunya itu harus menetap sementara. Menunggu keadaan membaik, entah sampai kapan. Kapanpun itu, semoga secepatnya.
(mantap bacanya sampai akhir)
(ya maaf kalo ada salah ketik, kan manusia)
bagus mas
BalasHapus