Sebuah Mimpi dari Khayalan

Selamat pagi, siang, sore dan malam, menyesuaikan kapan dirimu membacanya (asik)
Akhir ramadhan kali ini masih musim hujan. Tetesan airnya seringkali jatuh di waktu munculnya senja. Dan apabila dirimu sudah sangat haus ingin membasahi tenggorokan keringmu saat puasa, berlarilah keluar rumah, hadapkan wajahmu ke langit serta buka mulutmu lebar - lebar.
Atau saat kamu kebelet pipis dan malas untuk membuka celana serta menyiramnya, larilah keluar dan 'lepaskan'.

Hujan selalu dinantikan dikala kemarau panjang sudah datang. Di mana apabila terjadi kemarau panjang, sumur orang orang banyak mengalami kekeringan. Susah. Tapi suatu rejeki bagi tukang tukang sumur. Yang akan menjadi 'pahlawan', di saat seperti demikian.

Hujan identik dengan masa lalu. Bau khasnya dapat mengajak pikiran manusia untuk kembali ke tahun tahun sebelumnya, katanya. Entah, perlu dipertanyakan kebenarannya kepada orang orang yang memang ahli untuk membahasnya. Dan memang dirasa itu dapat dibenarkan bagi orang orang awam yang memang masa lalunya sulit dilupakan, gemar dirindukan. Atau kebenarannya terjadi karena sebuah sugesti dari orang orang yang suka membahas mengenai hal ini di media sosialnya yang sering kita baca.

Sementara itu,
Seorang remaja yang hampir berkepala dua terbangun dari tidurnya. Semalam dia bermimpi. Dan mimpinya terhenti akibat alarm sholat shubuh yang tidak selayaknya dia abaikan. Mimpinya indah, karena dia melihatnya dari segi keindahannya. Bukankah memang seharusnya seperti itu, sesuatu akan indah sekalipun itu hal yang buruk. Tergantung di bagian yang mana kamu merasakan dengan indera perasamu. Begitulah caranya merasakan, hingga senyumnya merekah bersamaan dengan badan yang ia renggangkan seusai beranjak dari tempat tidur.
Mimpinya adalah sebuah reka adegan masa lalu, dengan latar tempat sebuah kelas dan tentu pemeran utamanya adalah sang pemimpi. Dia kembali memejamkan mata seusai menunaikan sembahyang shubunya, mencoba mengingat adegan yang ia mimpikan.

Iya, ada teman - temannya di dalam kelas. Pagi itu ia telat bangun, terburu buru, telat pergi ke sekolah. Dalam sebuah bangunan berbentuk kotak, dimana sepasang sisi yang berhadapan berukuran sama panjang, yang disebut ruang kelas itu, seorang guru sedang mengajar suatu pelajaran.
Dia masuk mengucap salam, panik. Dan bertanya pada guru, duduk dimana saya Pak?
Padahal dia bukan murid baru yang tidak tahu di mana tempat duduknya. Sontak, seisi kelas tertawa. Lalu dia yang sedang diceritakan ini menghadapkan dirinya ke arah teman - teman dan sedikit berlari ke tempat duduknya. Ya, saat matanya melihat, di sana duduk si cantik yang juga tersenyum melihat tingkahnya. Beberapa soulmate juga tertawa 'tanpa akhlak' saat melihatnya.

Bicara si cantik itu, dalam kehidupan nyata sedang sedikit mengambil jarak dengan tokoh yang sedang diceritakan di atas. Bukan sedikit sebenarnya, banyak.

Lalu,
Pelajaran selesai, istirahatlah kemudian. Waktu istirahat jika diumpamakan seperti nafas seorang yang sedang berenang menyelam, di kolam air yang dalam, tanpa apapun alat bantuan, hanya celana dalam beserta celana luarnya yang ketat seperti celana penyanyi dangdut koplo yang gemar bergoyang.
Seorang perenang itu sudah menyelam di bawah air selama beberapa menit di kedalaman sekitar 5 meter, tahanan nafasnya sudah meronta - ronta, lalu dia berenang menuju permukaan, mencari sumber oksigen yang akan ia hirup dengan puas, karena jika terus di bawah permukaan, terpaksa seorang lainnya harus memberinya nafas buatan.
Nah seperti itulah waktu istirahat bagi seorang pelajar, apa lagi jika sebelumnya dihadapkan dengan pelajaran yang sulit dan ibu guru yang sangat lemah lembut dalam tanpa petik. Lega.

Dan si cantik tadi menghampirinya, mengajak bicara, bertanya padanya.
Berbanding terbalik dengan kehidupan nyata, si cantik diacuhkan olehnya. Namun, pemeran wanita itu tidak menyerah. Pertanyaannya terus terlontar dan disambut cetus oleh pemeran utama. Tundukan si pemimpi masih istiqomah, sayang sekali, senyum pemeran wanita dilewatkannya.

Hanya itu sedikitnya yang dia ingat, hal yang bisa membuatnya tersenyum di waktu shubuh yang masih bersuasana petang. Hal yang dia rindukan.
Dia berpikir untuk kembali berusaha mendekatkan kembali jaraknya dengan tokoh cantik dalam mimpi itu dalam kehidupan nyata. Memperbaiki apa yang mungkin perlu diperbaiki.
Selain itu, angin pagi yang masuk ke dalam kamar lewat jendela yang ia sengaja buka itu meluaskan pandangannya terhadap dirinya sendiri.
Ada banyak hal yang belum benar benar ia selesaikan. Berhenti di tengah jalan, menyerah dengan alasan, alasan yang ia buat buat dengan tujuan menenangkan dirinya sendiri. 

Tapi, menyerah adalah sebuah pilihan yang kurang tepat untuk dijadikan pilihan.
Namun tidak menyerah juga bukan perihal mudah.
Seperti pelapukan fisika yang disebabkan oleh air, sebuah batu keras yang tertetesi air terus menerus akan berubah bentuk atas kehendak Tuhan.

Baiklah, sudah terlalu panjang untuk terus teruskan.
Alunan lagu yang sedang saya dengarkan membuat mata saya menginginkan untuk dipejamkan (asik)
Sudah, selamat melakukan apa yang dilakukan dan mensyukuri serta menyabarinya.
Semoga Tuhan selalu memberkahi.

Komentar

Posting Komentar